Tulang Bawang Barat – Euforia pasca Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah menyisakan persoalan klasik, lonjakan volume sampah yang melampaui kapasitas.
Di tengah momentum menyambut hari jadi ke-17 Kabupaten Tulang Bawang Barat tahun 2026, kondisi ini menjadi ironi yang sulit diabaikan.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat pun bergerak cepat, sekaligus menyuarakan kegelisahan.
Puluhan tenaga kebersihan dikerahkan, didukung tiga unit armada truk pengangkut sampah. Operasi besar-besaran dilakukan di sejumlah titik krusial, mulai dari tempat penampungan sementara (TPS), kawasan pasar, hingga ruas jalan protokol.
Fokus utama diarahkan pada tiga pasar yang mengalami penumpukan parah, Mulya Asri, Daya Murni (Kecamatan Tumijajar), dan Panaragan Jaya.
Kepala DLH Tubaba melalui Kepala Bidang Persampahan, Ahmadsen, menegaskan bahwa kondisi pasca-Lebaran tahun ini tergolong darurat.
“Pasca bulan puasa dan Idulfitri 1447 Hijriah, penumpukan sampah di tiga pasar itu sudah sangat overload. Alhamdulillah, sejak beberapa hari lalu hingga hari ini, seluruhnya sudah kami angkut dan bersihkan,” ujarnya, Minggu (29/3/2026).
Tak sekadar mengangkut sampah, DLH juga melakukan pembersihan menyeluruh di area TPS, termasuk bagian lengan TPS yang kerap luput dari perhatian. Material organik seperti batok kelapa yang menumpuk turut dibersihkan demi mencegah dampak lingkungan lanjutan.
Namun, langkah teknis semata tidak cukup. Persoalan sampah, menurut DLH, adalah cerminan perilaku kolektif yang belum sepenuhnya beranjak.
Ahmadsen menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama di kawasan strategis seperti jalan protokol yang menjadi wajah daerah.
“Hari ini kami fokus di TPS Mulya Asri bersama petugas kebersihan pasar. Kami mengimbau masyarakat Tubaba agar menjaga kebersihan dan membudayakan tidak membuang sampah sembarangan,” tegasnya.
Pernyataan ini bukan sekadar imbauan normatif. Ia adalah peringatan. Bahwa pembangunan wajah kota tidak hanya bergantung pada kerja pemerintah, tetapi juga pada kedewasaan warganya dalam memperlakukan lingkungan.
Di usia ke-17, Kabupaten Tulang Bawang Barat dihadapkan pada pilihan, terus berkutat pada persoalan berulang, atau melompat menuju tata kelola lingkungan yang lebih beradab. Idulfitri seharusnya menjadi titik balik, bukan hanya untuk kembali suci secara spiritual, tetapi juga bersih secara ekologis,” pungkasnya (*)