Tulang Bawang – Slogan kampanye yang pernah digaungkan Bupati dan Wakil Bupati Tulangbawang, pasangan calon nomor urut 02 pada Pilkada 2024, kini kembali menjadi pertanyaan besar masyarakat. Janji-janji manis yang dulu disampaikan—mulai dari jalan mulus, ekonomi bagus, hingga program “satu miliar satu desa”—dengan jargon “Membangun dari Kampung”, kini dipertanyakan realisasinya, Jum’at (19/09/2025)
Sejumlah warga menyuarakan kekecewaan. Bagi mereka, politik bukan sekadar permainan janji, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
“Ini bukan sekadar permainan politik dan bukan ada maksud apa-apa, tapi yang kita inginkan adalah fakta-fakta dari janji kampanye pada saat itu,” ujar seorang warga yang identitasnya masih dirahasiakan.
Nada protes semakin keras terdengar. “Jangan cuma janji-janji semata tapi tidak ada bukti. Katanya slogannya ‘Yang Nyata-nyata Aja’, tapi malah beberapa tim sukses justru ikut aksi di Pemda. Ada apa dengan Tulangbawang?” paparnya.
Gelombang kekecewaan itu bukan isapan jempol. Dalam sepekan terakhir, tercatat sudah dua kali terjadi aksi demo di halaman Pemda Tulangbawang. Aksi ini mencerminkan keresahan publik terhadap kondisi ekonomi daerah yang dinilai “tidak baik-baik saja.”
Hal senada ditegaskan oleh Andika, yang mengaku pendukung Bupati saat masa kampanye.
“Saya ini pendukung bapak pada saat kampanye. Tapi kenapa sekarang bapak tidak mau menemui saya dan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi kami?” tegasnya lantang.
Kekecewaan itu pun kian bergema di ruang publik, diperkuat oleh derasnya arus unggahan di media sosial, mulai dari Facebook hingga TikTok, yang memperlihatkan keresahan masyarakat Tulangbawang.
Bahkan, dalam salah satu orasi, terdengar suara warga Nurhedi dengan bahasa Lampung yang menyindir keras janji kampanye itu: “Enow Agow Metei Ngakuk duit Lemow puluh gibew” Yang artinya, Itu Mau Kamu Orang Ngambil Uang Lima Puluh Ribu —sebuah ungkapan sinis yang menggambarkan kekecewaan atas janji yang belum terbukti.
Kini, publik menanti langkah tegas Bupati dan Wakil Bupati Tulangbawang. Akankah mereka berani menjawab kritik dengan realisasi nyata, atau membiarkan slogan “Membangun dari Kampung” tinggal sekadar jargon politik belaka? (Jeffry)
![]()