Sungguh ironis!
Tulang Bawang, Lampung, dikenal sebagai salah satu daerah penghasil gula yang besar. Namun, masyarakatnya justru harus menghadapi mahalnya harga gula, salah satu kebutuhan pokok yang setiap hari dibutuhkan rakyat.
Ada yang perlu kita pertanyakan, bagaimana mungkin daerah yang menjadi bagian dari pusat produksi gula justru membuat masyarakatnya harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli gula?
Apakah gula yang diproduksi dari tanah sendiri hanya untuk dinikmati oleh mereka yang memiliki kuasa atas distribusinya? Sementara masyarakat yang hidup berdampingan dengan industri gula hanya kebagian harga mahalnya?
Kita tidak sedang meminta gula dibagikan secara cuma-cuma. Kita juga tidak sedang menuntut masyarakat Tulang Bawang mendapatkan keistimewaan tanpa alasan.
Ketika sebuah daerah menjadi bagian penting dari rantai produksi komoditas strategis, sudah sepatutnya kepentingan masyarakat setempat mendapat perhatian serius. Jangan sampai daerahnya menyumbang produksi, tetapi rakyatnya justru menanggung beban harga.
Jangan sampai kita bangga menyebut Lampung sebagai daerah penghasil gula, tetapi lupa memastikan apakah masyarakat Lampung sendiri mampu membeli gula dengan harga yang wajar.
Sebab, ukuran keberhasilan sebuah industri bukan hanya seberapa besar produksinya, seberapa luas lahannya, atau seberapa tinggi keuntungannya.
Keberhasilan juga harus diukur dari seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh masyarakat di sekitarnya.
Pemerintah jangan hanya hadir dalam angka produksi dan laporan keberhasilan. Hadirlah juga di pasar, lihat harga kebutuhan pokok, dengarkan keluhan rakyat, dan evaluasi rantai distribusi yang membuat harga gula terasa memberatkan.
Jika persoalannya ada pada distribusi, benahi distribusinya. Jika ada hambatan pasokan, buka persoalannya. Jika ada kebijakan yang perlu dievaluasi, evaluasilah secara terbuka.
Jangan biarkan rakyat terus bertanya-tanya, sementara jawaban atas mahalnya kebutuhan pokok tidak pernah benar-benar dijelaskan.
Tulang Bawang tidak meminta hak istimewa. Tulang Bawang meminta perhatian yang masuk akal dan keadilan yang nyata.
Karena pada akhirnya, rakyat tidak bisa memasukkan angka produksi ke dalam gelas kopi mereka. Rakyat membutuhkan gula yang bisa dibeli dengan harga terjangkau.
Jangan hanya bangga menjadi daerah penghasil gula. Buktikan bahwa masyarakatnya juga tidak menjadi pihak yang paling dirugikan oleh mahalnya gula.
Sebab, sungguh tidak masuk akal jika manisnya hasil produksi tidak sebanding dengan pahitnya kenyataan yang harus ditanggung rakyat.
“Jangan sampai tanah kami menghasilkan manis, tetapi rakyat kami dipaksa menelan pahit.”
![]()