Lampungcity.co – Lebaran selalu datang dengan janji kemenangan, kebersamaan, dan harapan baru. Namun tahun ini, gema takbir terasa berlapis. Di satu sisi, ia tetap sakral.
Di sisi lain, ia berhadapan langsung dengan realitas ekonomi yang kian menyesakkan.
Harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja tak kunjung stabil, dan daya beli masyarakat tergerus perlahan.
Lebaran, yang semestinya menjadi momen pelepasan beban, justru bagi banyak orang berubah menjadi sumber tekanan baru.
Kita perlu jujur, romantisme Lebaran tidak selalu selaras dengan kondisi sosial-ekonomi hari ini.
Tradisi mudik, berbagi, hingga konsumsi yang meningkat tajam menjelang hari raya, kini menjadi beban finansial yang tidak ringan.
Banyak keluarga terpaksa berutang demi menjaga “kehormatan sosial”, agar tetap bisa pulang kampung, memberi amplop, atau sekadar menyajikan hidangan yang dianggap layak.
Di titik ini, Lebaran tidak lagi murni spiritual, tetapi juga menjadi arena kompetisi sosial yang diam-diam memaksa.
Namun menyederhanakan masalah ini sebagai “kesalahan tradisi” juga keliru. Tradisi Lebaran adalah perekat sosial yang telah lama menjaga kohesi masyarakat.
Yang bermasalah bukan tradisinya, melainkan ketimpangan ekonomi yang membuat sebagian orang harus membayar harga terlalu mahal untuk mempertahankannya.
Ketika jurang ekonomi melebar, bahkan momen kebahagiaan kolektif pun terasa eksklusif.
Di sinilah pentingnya perspektif yang lebih jernih. Lebaran tidak harus identik dengan konsumsi berlebihan. Esensi kemenangan justru terletak pada kemampuan menahan diri, nilai yang ironisnya sering hilang di tengah euforia belanja dan pamer.
Masyarakat perlu berani mendefinisikan ulang makna “cukup” dan “layak” dalam konteks hari raya. Kesederhanaan bukan kegagalan, melainkan bentuk keberanian melawan tekanan sosial yang tidak rasional.
Di sisi lain, negara tidak boleh absen. Stabilitas harga, ketersediaan bahan pokok, dan perlindungan terhadap kelompok rentan bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan prasyarat agar masyarakat dapat merayakan Lebaran dengan martabat.
Retorika pertumbuhan ekonomi tidak cukup jika tidak terasa di dapur rakyat. Lebaran seharusnya menjadi cermin, apakah kesejahteraan benar-benar merata, atau hanya angka dalam laporan?
Yang menarik, di tengah keterbatasan, selalu ada ruang untuk harapan. Banyak komunitas saling membantu, berbagi makanan, hingga menggalang solidaritas lokal.
Ini menunjukkan bahwa kekuatan sosial kita belum runtuh. Justru dalam tekanan, nilai gotong royong menemukan relevansinya kembali.
Lebaran, dalam konteks ini, tetap menjadi ruang untuk memperkuat empati, bukan sekadar memamerkan kemakmuran.
Akhirnya, Lebaran di tengah kenyataan pahit ekonomi adalah ujian, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi bangsa.
Apakah kita akan terus terjebak dalam simbolisme yang membebani, atau berani kembali pada esensi yang membebaskan? Jawabannya tidak sederhana, tetapi satu hal jelas, kemenangan sejati tidak diukur dari seberapa mewah kita merayakan, melainkan seberapa jujur kita menghadapi realitas, dan seberapa kuat kita tetap peduli satu sama lain. (Jeffry)