Tulang Bawang – Kepedulian sosial kembali diuji di tengah musibah kebakaran yang meluluhlantakkan rumah milik Darwis (65), warga RT 005 / RW 003 Kampung Tri Tunggal Jaya, Kecamatan Banjar Agung, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung.
Di tengah puing-puing yang masih menyisakan bara duka, kehadiran Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Tulang Bawang, Herlinawati Qudrotul, menjadi simbol empati sekaligus pengingat akan tanggung jawab kolektif.
Didampingi jajaran TP PKK, Ketua IKIAD, perwakilan Baznas Tulang Bawang yang dipimpin Hi Yantori, Dinas Sosial, serta unsur pemerintahan setempat seperti Camat Banjar Agung Ali Mat Hasan dan PJ Kepala Kampung Tri Tunggal Jaya Makhqriza Heri Pratama, kunjungan tersebut bukan sekadar seremonial. Ini adalah panggilan moral untuk bergerak nyata.
Mewakili Bupati Tulang Bawang yang tengah menjalankan tugas di luar daerah, Herlinawati menyampaikan arahan tegas, seluruh elemen, baik pemerintah kampung, kecamatan, hingga instansi terkait, harus turun tangan membangun kembali kehidupan korban, bukan hanya menyaksikan dari kejauhan.
Rumah Darwis, seorang pemulung rongsokan di Pasar Unit Dua, rata dengan tanah. Tak satu pun harta benda tersisa, bahkan dokumen penting ikut hangus. Yang melekat hanyalah pakaian di badan dan luka batin yang tak kasat mata.
“Di sinilah kehadiran negara dan seluruh elemen masyarakat diuji. Tidak cukup hanya prihatin. Kita harus bahu-membahu, menyumbang tenaga, pikiran, dan juga bantuan finansial,” tegas Herlinawati di lokasi kejadian, Selasa (07/04/2026).
Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Ia secara langsung meminta Baznas Kabupaten Tulang Bawang untuk mengambil langkah konkret melalui program bedah rumah bagi keluarga Darwis.
Menurutnya, kondisi di lapangan menunjukkan urgensi tinggi, bukan sekadar bantuan sementara, melainkan pemulihan menyeluruh.
“Tidak ada satu pun barang yang bisa diselamatkan. Semua ludes. Ini bukan hanya kehilangan materi, tetapi juga kehilangan rasa aman,” ujarnya
Namun di balik tragedi, muncul secercah harapan. Inisiatif Camat Banjar Agung dan PJ Kepala Kampung Tri Tunggal Jaya dalam membuka donasi publik menjadi contoh konkret bahwa solidaritas sosial masih hidup. Langkah ini patut diapresiasi sekaligus diperluas.
Herlinawati juga mengingatkan pentingnya keteguhan batin dalam menghadapi cobaan. “Kesabaran adalah kunci. Di balik kesulitan, selalu ada kemudahan. Kita berserah, tetapi juga harus berikhtiar,” tuturnya.
Peristiwa ini menyodorkan refleksi lebih luas: penanganan bencana sosial di tingkat lokal masih membutuhkan sistem yang lebih tanggap, terstruktur, dan berkelanjutan.
Empati harus diterjemahkan menjadi kebijakan, dan solidaritas harus diwujudkan dalam aksi nyata.
Musibah Darwis adalah cermin. Pertanyaannya kini, sejauh mana kita, sebagai masyarakat dan bagian dari sistem, benar-benar hadir, bukan hanya melihat, tetapi turut membangun kembali dari nol,” Pungkasnya (Jef)