BANDAR LAMPUNG – Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, mengikuti Apel Kehormatan dan Renungan Suci dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Taman Makam Pahlawan (TMP) Tanjung Karang, Bandar Lampung, Senin (17/8/2026)
Apel yang berlangsung dalam suasana hening dan khidmat tersebut dipimpin Pangdam XXI/Radin Inten, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, selaku inspektur upacara.
Renungan suci bukan sekadar ritual tahunan. Ia menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari pengorbanan, keberanian, dan pengabdian mereka yang mempertaruhkan jiwa demi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di hadapan pusara para pahlawan, penghormatan kembali ditegaskan. Rangkaian kegiatan diawali dengan penghormatan kepada arwah para pahlawan, pembacaan teks kehormatan oleh inspektur upacara, serta mengheningkan cipta untuk mengenang mereka yang gugur dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Mayjen TNI Kristomei Sianturi menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya atas keikhlasan dan pengorbanan para pahlawan dalam pengabdian serta perjuangan bagi kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia.
Pesan itu menjadi relevan untuk generasi hari ini. Sebab, menjaga kemerdekaan tidak berhenti pada mengenang sejarah. Kemerdekaan menuntut tanggung jawab untuk memastikan negara hadir, hukum ditegakkan, pembangunan berjalan adil, dan kepentingan rakyat ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Bagi jajaran pemerintahan, penghormatan kepada pahlawan semestinya diterjemahkan ke dalam kerja yang nyata, pelayanan publik yang semakin baik, tata kelola pemerintahan yang bersih, pembangunan yang inklusif, serta keberpihakan yang konsisten terhadap kepentingan masyarakat.
Kehadiran Sekdaprov Marindo bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Lampung, para kepala organisasi perangkat daerah (OPD), personel TNI dan Polri, serta organisasi kemasyarakatan menunjukkan bahwa penghormatan terhadap sejarah perjuangan merupakan tanggung jawab bersama.
Apel Kehormatan dan Renungan Suci akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni. Di tengah gelapnya dini hari, para peserta diajak kembali melihat terang yang diperjuangkan para pendahulu bangsa, sebuah Indonesia yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat.
Tantangannya kini bukan lagi mengangkat senjata di medan perang, melainkan memastikan kemerdekaan benar-benar menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan masa depan yang layak bagi seluruh rakyat.
Rangkaian kegiatan berlangsung khidmat, tertib, dan lancar. Penghormatan kepada para pahlawan pun ditutup dengan satu pesan moral yang tegas, kemerdekaan diwariskan oleh mereka yang berkorban, tetapi kualitas kemerdekaan ditentukan oleh apa yang dilakukan generasi setelahnya. (*)
![]()